Bagaimana Masyarakat Menilai Keberadaan dan Fungsi
Edukasi?
Permasalahan utama
yang akan saya bahas dalam analisa film ini adalah masalah pendidikan. Bahwa
telah kita ketahui bersama, pendidikan harus diperoleh oleh seluruh warga
negara yang telah merdeka. Mengingat pendidikan adalah modal utama bagi sebuah
negara untuk mencapai tujuan. Namun, di dalam film ini dikisahkan bahwa masih
banyak rakyat Indonesia yang tidak dapat mengenyam pendidikan dengan baik.
Bahkan mereka tidak tahu apa fungsi pendidikan bagi mereka, karena memang nasib
mereka tidak akan berubah dengan atau tanpa mereka mengenyam pendidikan.
Sehingga mereka tidak lagi peduli untuk pergi ke sekolah dan duduk-duduk saja
sedangkan setelah pulang sekolah mereka tidak tahu masih bisa makan atau tidak.
Mereka lebih memilih untuk bekerja dan menghasilkan uang untuk sekedar
mencukupi kebutuhan perutnya.
Permasalahan
pendidikan tidak hanya dikisahkan dengan tidak mampunya seseorang mengenyam
pendidikan, namun juga banyaknya kasus pengangguran terdidik. Dengan banyaknya
pengangguran lulusan sarjana yang belum juga mendapatkan pekerjaan, hal ini
menceritakan betapa rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Kurangnya mutu
pendidikan ini menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial. Bahkan orang yang
pintar sekaligus juga bisa menganggur. Ada yang IPK nya tinggi namun
keterampilannya kurang, ada yang keterampilannya mumpuni namun IPK nya kurang.
Pendidikan pula yang menyebabkan kesenjangan sosial dengan adanya perbedaan
perlakuan antara korupsi dengan pencopet, padahal keduanya sama-sama pencuri
dengan mengambil uang yang bukan haknya dan tidak sepantasnya menjadi milik
mereka, serta membuat orang lain rugi. Sedang para koruptor, mereka masih bisa
berdalih bahwa bukan mereka pelakunya. Hal ini sangatlah miris, jika seperti
itu lalu apa gunanya pendidikan yang bertujuan untuk membuat siswanya selain
pintar dalam hal ilmu pengetahuan namun mereka juga dituntut untuk memiliki
moral yang baik pula. Dari kasus ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa
cita-cita untuk membentuk siswa dengan pendidikan karakter belum lah tercapai
dan masih jauh dari kata terwujud. Karena pada dasarnya ilmu moral yang dipelajari
tidaklah berguna jika tidak dapat bermanfaat bagi orang lain dan tidak diterapkan
di kehidupan begitu pula dengan ilmu lainnya.
Di jalanan kita lihat
apabila ada seorang pencopet yang ketahuan maka akan dikejar dan ditangkap lalu
dipukuli habis-habisan. Padahal isi dompetnya pun tidak seberapa dibandingkan
dengan perlakuan massa yang didapat. Belum lagi harus diadili oleh kepolisian
dan berujung di penjara. Bukan berarti saya membela pencopet atau
memperbolehkan pencopetan itu terjadi. Namun, kita bisa melihat betapa keadilan
itu tumpul ke atas dan tajam ke bawah.
Korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh para pejabat dari kalangan atas
hingga pejabat daerah di segala instansi pemerintahan merupakan bukti betapa
bobroknya moral dan mental bangsa Indonesia. Para pejabat yang berpendidikan
tinggi itu seharusnya menjadi contoh bagi rakyatnya dan menjalankan
kewajibannya dengan baik demi kemakmuran rakyat.
Dampak yang
ditimbulkan dari korupsi lebih besar daripada anak-anak dalam film tersebut
yang menjadi pencopet. Korupsi yang menyengsarakan rakyatnya yang taat membayar
pajak, seharusnya dapat digunakan untuk mengentaskan kemiskinan. Padahal kita
tahu bahwa hutang Indonesia pada negara lain sangatlah besar nilainya, lalu
apakah para pejabat hanya akan berorientasi dengan memakmurkan diri sendiri,
sedangkan rakyatnya kesusahan? Bahkan proses hukumnya juga berjalan dengan
lamban dan seakan ditunda-tunda agar kasusnya terlupakan oleh masyarakat.
Untuk mengatasi
kesenjangan sosial dalam hal pendidikan ini, harus dimulai dari permasalahan
akarnya. Yaitu dari sistem pendidikan itu sendiri, sehingga kiranya mutu harus
lebih ditingatkan dan juga pemerataan fasilitas-fasilitas di daerah terpencil
agar lebih diperhatikan. Entah itu adalah buku penunjang, gedung sekolah, guru
yang kompeten, dan sarana prasarana lain yang memadai. Sehingga gambar-gambar
kampanye gerakan wajib belajar sembilan tahun bukan merupakan wacana belaka.
Karena pendidikan adalah hak bagi seluruh warga negara. Bahkan gelandangan dan
anak jalanan sudah seharusnya dipelihara negara. Pendidikan yang diajarkan kepada
siswa pun kurikulumnya tidak hanya mendidik siswanya menjadi lebih pintar nmun
juga cerdas dengan pendidikan berbudaya dan karakter yang baik agar kedepannya
tidak ada lagi koruptor-koruptor yang berdalih wakil rakyat.
“Kalau
hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar bekerja,
kera juga bekerja.”
~Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck,
Hamka~
Hiduplah dengan cara yang luar biasa. Bukan hal
yang biasa yang akan dilihat orang, tapi hal yang luar biasa. Jika kamu ingin
hidupmu bermakna, jadikan hidup itu luar biasa. Kamu perlu jadikan hidupmu
bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain. Hidupmu menjadi berkat
untuk orang lain. Ketika hal itu terjadi, kamu telah mengerti kata kata indah
ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar