Romansa Tanah Surga
“...Bukan lautan tapi kolam susu,
kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan
udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan
batu jadi tanaman...”
Lirik lagu tersebut menggambarkan
betapa Indonesia itu bak replika dari surga yang sesungguhnya. Memang,
Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan hasil buminya, serta tanah subur
sehingga tanaman apapun akan tumbuh dengan baik di Indonesia. Indonesia sejak
zaman penjajahan dikenal sebagai negara penghasil rempah terbesar di dunia, Indonesia
juga terletak di lokasi yang strategis karena seluruh jalur perdagangan
melewati Indonesia, sehingga tidak heran banyak negara yang ingin untuk
menguasainya.
Di dalam film ini dikisahkan
betapa kehidupan masyarakat di pedalaman itu jauh dari kata layak. Mereka tidak
mendapatkan fasilitas pendidikan yang baik dan fasilitas kesehatan yang
memadai. Mungkin, keterbatasan dana menjadi alasan utama bagi pemerintah yang tidak
segera merealisasikan programnya untuk mengentaskan daerah yang tertinggal.
Namun, sebenarnya jika dikelola dengan baik dan langsung tepat sasaran maka
pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan daerah tertinggal dapat segera
terwujud. Lagi-lagi masyarakat tidak dapat berbuat banyak selain daripada
menunggu dan menunggu agar terketuk hati wakil rakyat untuk membantu mereka
mencapai kemakmuran. Bukankah Indonesia telah merdeka 71 tahun lamanya? Lalu
mengapa masih rakyatnya yang belum bisa merasakan merdeka? Rakyat seperti
dibiarkan begitu saja dan menerima fasilitas yang seadanya. Hal ini membuktikan
bahwa cita-cita mulia bangsa ini belum seluruhnya tercapai.
Selain itu masyarakat di
pedalaman juga kesulitan jika akan memeriksakan kesehatannya, karena akses perjalanan
yang harus melewati sungai dan harus bertahan selama beberapahali melewati
gelapnya hutan. Akses jalan juga tidak sebagus yang kita lihat biasanya diaspal
bagus dan mudah untuk dilewati. Jalanan masih becek, berliku dan tidak rata
belum lagi kendaraan pun sangat minim di sana, mereka harus berjalan kaki untuk
dapat sampai ke tempat tujuan. Anak-anak yang sekolah sangatlah besar
perjuangannya. Dikisahkan di film tersebut, kita melihat sesampainya di sekolah
kita dikejutkan dengan bangunannya yang tidak layak disebut sekolah. Hanya
sebuah bangunan yang terbuat dari kayu yang sewaktu hujan turun maka akan bocor
atau kebanjiran, dan jika ada badai mungkin sudah tersapu terbang kemana-mana.
Tak terbayangkan bagaimana kita bisa menjalani kehidupan seperti itu, sedangkan
dengan segala kemudahan akses di segala bidang ini pun kita kurang bersyukur
dan tidak berjuang demi hidup kita sendiri.
Masyarakat pedalaman yang tinggal
di perbatasan lebih banyak berinteraksi dan beraktivitas di negara tetangga. Dalam
film ini tokoh berjuang mencari uang untuk biaya pengobatan kakeknya yang
jaraknya jauh dari rumahnya. Ia bekerja di sebuah industri kerajinan yang
barangnya di pasarkan di negara Malaysia. Ia harus melewati sungai dan
menelusuri hutan serta jalanan yang terjal yang jaraknya cukup jauh. Kita bisa
melihat betapa kontrasnya jalanan yang ia lalui setelah ia sampai di
perbatasan, bahwa jalanan di Malaysia sudah teraspal dengan halus sedangkan
jalanan di Indonesia masih berupa tanah dan bebatuan yang tidak rata. Namun, ia lebih memilih untuk menginjakkan kakinya ke jalan terjal tersebut dan berlari pulang ke rumah dengan mengibarkan kain merah putih yang ia tukar dengan sarung pada warga Malaysia. Tindakan dan rasa nasionalisme itu tidak akan pernah terpikir oleh seorang anak kecil apabila tidak ada penanaman cinta tanah air oleh orang-orang disekitarnya.
Masih menyisakan pertanyaan yang
dalam, apa yang bisa kita lakukan jika suatu saat nanti kejadian Pulau Sipadan
dan Ligitan yang telah diklaim oleh Malaysia dan telah disahkan secara de facto oleh dunia terjadi kembali? Karena
masyarakat pedalaman di perbatasan memiliki budaya dan cara berkomunikasi yang
seperti orang Malaysia. Karena memang lebih dekat jarak mereka untuk
berhubungan sosial ke Malaysia daripada di Indonesia. Akses yang sulit
menyebabkan mereka belum dapat terjangkau oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah
pun sepertinya masih menutup telinga jika ada yang menyampaikan aspirasi mereka
hanya untuk sekedar menuntut keadilan dan mendapatkan hak-hak mereka sebagai
seorang warga negara. Bahkan ketika mereka menyampaikan aspirasinya kepada
pejabat berwenang, pejabat tersebut membatalkan bantuan-bantuan yang seharusnya
diberikan kepada masyarakat disana. Pemerintah masih enggan mendengar kritikan
dari masyarakat dan bersikap acuh tak acuh dengan kehidupan yang dialami serta
segala kesusahan yang mereka dapatkan.
Tak bijak rasanya jika kita tidak
bersikap toleran dan peduli kepada saudara sebangsa dan se tanah air. Pemerintah
telah membuat program “Nusantara Sehat” yaitu sebuah program yang memadukan
berbagai tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, analis, gizi,
kesling, apoteker dan lainnya yang dikirim di berbagai pelosok nusantara untuk
membantu masyarakat mendapakan pelayanan kesehatan yang baik. Sehingga kita
hendaknya mau dan turut serta berpartisiasi dalam program tersebut. Mungkin inilah
salah satu cara kita untuk membantu pemerintah mendapatkan fasilitas kesehatan
serta wujud kepedulian kita terhadap sesama.
“Orang-orang biasanya melihat apa yang
mereka cari, dan mendengar apa yang mereka ingin dengar.”
~To Kill a
Mockingbird, Harper Lee~
Kutipan kata kata
indah kehidupan ini sungguh mengungkapkan kejadian di dunia sekarang.
Orang-orang penuh dengan keegoisan yang tinggi dibalut dalam hedonisme yang
besar. Mereka ingin didengar tapi enggan mendengar. Mereka ingin dilihat tapi
enggan melihat. Ketika dunia sudah penuh dengan situasi seperti ini, masih
inginkah anda melakukan hal yang sama?



