Minggu, 18 Desember 2016

Analisis Film “Tanah Surga Katanya”


Romansa Tanah Surga



“...Bukan lautan tapi kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman...”
Lirik lagu tersebut menggambarkan betapa Indonesia itu bak replika dari surga yang sesungguhnya. Memang, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan hasil buminya, serta tanah subur sehingga tanaman apapun akan tumbuh dengan baik di Indonesia. Indonesia sejak zaman penjajahan dikenal sebagai negara penghasil rempah terbesar di dunia, Indonesia juga terletak di lokasi yang strategis karena seluruh jalur perdagangan melewati Indonesia, sehingga tidak heran banyak negara yang ingin untuk menguasainya.
Di dalam film ini dikisahkan betapa kehidupan masyarakat di pedalaman itu jauh dari kata layak. Mereka tidak mendapatkan fasilitas pendidikan yang baik dan fasilitas kesehatan yang memadai. Mungkin, keterbatasan dana menjadi alasan utama bagi pemerintah yang tidak segera merealisasikan programnya untuk mengentaskan daerah yang tertinggal. Namun, sebenarnya jika dikelola dengan baik dan langsung tepat sasaran maka pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan daerah tertinggal dapat segera terwujud. Lagi-lagi masyarakat tidak dapat berbuat banyak selain daripada menunggu dan menunggu agar terketuk hati wakil rakyat untuk membantu mereka mencapai kemakmuran. Bukankah Indonesia telah merdeka 71 tahun lamanya? Lalu mengapa masih rakyatnya yang belum bisa merasakan merdeka? Rakyat seperti dibiarkan begitu saja dan menerima fasilitas yang seadanya. Hal ini membuktikan bahwa cita-cita mulia bangsa ini belum seluruhnya tercapai.

 Selain itu masyarakat di pedalaman juga kesulitan jika akan memeriksakan kesehatannya, karena akses perjalanan yang harus melewati sungai dan harus bertahan selama beberapahali melewati gelapnya hutan. Akses jalan juga tidak sebagus yang kita lihat biasanya diaspal bagus dan mudah untuk dilewati. Jalanan masih becek, berliku dan tidak rata belum lagi kendaraan pun sangat minim di sana, mereka harus berjalan kaki untuk dapat sampai ke tempat tujuan. Anak-anak yang sekolah sangatlah besar perjuangannya. Dikisahkan di film tersebut, kita melihat sesampainya di sekolah kita dikejutkan dengan bangunannya yang tidak layak disebut sekolah. Hanya sebuah bangunan yang terbuat dari kayu yang sewaktu hujan turun maka akan bocor atau kebanjiran, dan jika ada badai mungkin sudah tersapu terbang kemana-mana. Tak terbayangkan bagaimana kita bisa menjalani kehidupan seperti itu, sedangkan dengan segala kemudahan akses di segala bidang ini pun kita kurang bersyukur dan tidak berjuang demi hidup kita sendiri. 

 Masyarakat pedalaman yang tinggal di perbatasan lebih banyak berinteraksi dan beraktivitas di negara tetangga. Dalam film ini tokoh berjuang mencari uang untuk biaya pengobatan kakeknya yang jaraknya jauh dari rumahnya. Ia bekerja di sebuah industri kerajinan yang barangnya di pasarkan di negara Malaysia. Ia harus melewati sungai dan menelusuri hutan serta jalanan yang terjal yang jaraknya cukup jauh. Kita bisa melihat betapa kontrasnya jalanan yang ia lalui setelah ia sampai di perbatasan, bahwa jalanan di Malaysia sudah teraspal dengan halus sedangkan jalanan di Indonesia masih berupa tanah dan bebatuan yang tidak rata. Namun, ia lebih memilih untuk menginjakkan kakinya ke jalan terjal tersebut dan berlari pulang ke rumah dengan mengibarkan kain merah putih yang ia tukar dengan sarung pada warga Malaysia. Tindakan dan rasa nasionalisme itu tidak akan pernah terpikir oleh seorang anak kecil apabila tidak ada penanaman cinta tanah air oleh orang-orang disekitarnya.
Masih menyisakan pertanyaan yang dalam, apa yang bisa kita lakukan jika suatu saat nanti kejadian Pulau Sipadan dan Ligitan yang telah diklaim oleh Malaysia dan telah disahkan secara de facto oleh dunia terjadi kembali? Karena masyarakat pedalaman di perbatasan memiliki budaya dan cara berkomunikasi yang seperti orang Malaysia. Karena memang lebih dekat jarak mereka untuk berhubungan sosial ke Malaysia daripada di Indonesia. Akses yang sulit menyebabkan mereka belum dapat terjangkau oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah pun sepertinya masih menutup telinga jika ada yang menyampaikan aspirasi mereka hanya untuk sekedar menuntut keadilan dan mendapatkan hak-hak mereka sebagai seorang warga negara. Bahkan ketika mereka menyampaikan aspirasinya kepada pejabat berwenang, pejabat tersebut membatalkan bantuan-bantuan yang seharusnya diberikan kepada masyarakat disana. Pemerintah masih enggan mendengar kritikan dari masyarakat dan bersikap acuh tak acuh dengan kehidupan yang dialami serta segala kesusahan yang mereka dapatkan.
Tak bijak rasanya jika kita tidak bersikap toleran dan peduli kepada saudara sebangsa dan se tanah air. Pemerintah telah membuat program “Nusantara Sehat” yaitu sebuah program yang memadukan berbagai tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, analis, gizi, kesling, apoteker dan lainnya yang dikirim di berbagai pelosok nusantara untuk membantu masyarakat mendapakan pelayanan kesehatan yang baik. Sehingga kita hendaknya mau dan turut serta berpartisiasi dalam program tersebut. Mungkin inilah salah satu cara kita untuk membantu pemerintah mendapatkan fasilitas kesehatan serta wujud kepedulian kita terhadap sesama.  

“Orang-orang biasanya melihat apa yang mereka cari, dan mendengar apa yang mereka ingin dengar.”

~To Kill a Mockingbird, Harper Lee~

Kutipan kata kata indah kehidupan ini sungguh mengungkapkan kejadian di dunia sekarang. Orang-orang penuh dengan keegoisan yang tinggi dibalut dalam hedonisme yang besar. Mereka ingin didengar tapi enggan mendengar. Mereka ingin dilihat tapi enggan melihat. Ketika dunia sudah penuh dengan situasi seperti ini, masih inginkah anda melakukan hal yang sama?